Sudah tiga minggu ini, setiap hari head line di suratkabar Kota Cirebon (radar cirebon dan mitra dialog) dipenuhi oleh tulisan tentang PPK-IPM. Beritanya lebih menyoroti kepada kegagalan dan ketimpangan. Tulisan pertama lebih ditujukan kepada keterlibatan Tenaga Ahli PPK-IPM yang merangkap sebagai tim sukses ketua satlak yang menjadi calon walikota 2008. Keterlibatan mereka dianggap menyalahi aturan dan dianggap memihak bahkan dalam koran disebut-sebut tidak punya hati nurani sehingga harus mundur. Berita ini akhirnya berhenti setelah tenaga ahli memberikan pernyataan sikap yang pada intinya mereka memiliki hak politik untuk memilih. Kalo saya lihat sih sebenarnya mereka baik-baik saja dalam menjalankan tugasnya dalam arti rasanya tidak kelihatan bahwa mereka memanfaatkan fasilitas yang ada untuk kepentingan kampanye.
Setelah berita ini reda, muncul kembali pernyataan wakil walikota yang membeberkan hasil temuan monev dan disimpulkan bahwa pelaksanaan PPK-IPM gagal dan banyak ketimpangan. Saya sendiri gak habis pikir, sebagai sekretaris tim monev, rasanya tim monev pun pada saat membeberkan tidak menyebutkan bahwa PPK-IPM ini gagal dan banyak ketimpangan. Ada masalah memang iya, tapi kan itu adalah hal yang harus dicarikan solusinya. Pernyataan ini berlanjut terus dan mendapat tanggapan banyak pihak dari ketua dewan yang memang sakit hati karena terdepak dalam bursa pencalonan walikota oleh partainya sendiri, dari tokoh masyarakat, mantan pejabat, dan lain sebagainya.Memang ini kemajuan karena semua memiliki perhatian lebih kepada PPK-IPM. Anehnya banyak diantara mereka adalah wajah-wajah yang sebenarnya selama ini bersembunyi dibalik pernyataan manis mereka. Ada diantaranya yang berusaha memenangkan tender di PPK-IPM dengan segala cara namun mereka kalah, sehingga momentum tersebut dimanfaatkan untuk menyudutkan pelaksanaan PPK-IPM. Sangat ironis ketika kita 'berdarah-darah" menyusun proposal PPK-IPM di tahun 2005, gak dapat dukungan, tapi pada saat dinyatakan menang semua menoleh, minta bagian dan harus dinyatakan sebagai keberhasilan bersama rakyat Cirebon. Tetapi ketika ada masalah, semuanya ditimpakan kepada Satlak. Kemana tanggung jawab mereka selama ini. Entahlah tapi rasanya memang jaman sekarang ini adalah jaman "maling teriak maling" dan sedang populernya olahraga "lempar batu sembunyi tangan".
Sampai tulisan ini dibuat berita tentang PPK-IPM masih menghiasi headline surat kabar entah sampai kapan.
Setelah berita ini reda, muncul kembali pernyataan wakil walikota yang membeberkan hasil temuan monev dan disimpulkan bahwa pelaksanaan PPK-IPM gagal dan banyak ketimpangan. Saya sendiri gak habis pikir, sebagai sekretaris tim monev, rasanya tim monev pun pada saat membeberkan tidak menyebutkan bahwa PPK-IPM ini gagal dan banyak ketimpangan. Ada masalah memang iya, tapi kan itu adalah hal yang harus dicarikan solusinya. Pernyataan ini berlanjut terus dan mendapat tanggapan banyak pihak dari ketua dewan yang memang sakit hati karena terdepak dalam bursa pencalonan walikota oleh partainya sendiri, dari tokoh masyarakat, mantan pejabat, dan lain sebagainya.Memang ini kemajuan karena semua memiliki perhatian lebih kepada PPK-IPM. Anehnya banyak diantara mereka adalah wajah-wajah yang sebenarnya selama ini bersembunyi dibalik pernyataan manis mereka. Ada diantaranya yang berusaha memenangkan tender di PPK-IPM dengan segala cara namun mereka kalah, sehingga momentum tersebut dimanfaatkan untuk menyudutkan pelaksanaan PPK-IPM. Sangat ironis ketika kita 'berdarah-darah" menyusun proposal PPK-IPM di tahun 2005, gak dapat dukungan, tapi pada saat dinyatakan menang semua menoleh, minta bagian dan harus dinyatakan sebagai keberhasilan bersama rakyat Cirebon. Tetapi ketika ada masalah, semuanya ditimpakan kepada Satlak. Kemana tanggung jawab mereka selama ini. Entahlah tapi rasanya memang jaman sekarang ini adalah jaman "maling teriak maling" dan sedang populernya olahraga "lempar batu sembunyi tangan".
Sampai tulisan ini dibuat berita tentang PPK-IPM masih menghiasi headline surat kabar entah sampai kapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar