Beberapa hari yang lalu saya mengontak teman saya yang ada di Dep Kimpraswil di Jakarta. Maksudnya ingin menanyakan tentang Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang Nasional. Dia menjawab agar menyampaikan hal tersebut kepada temannya yang ada di dirjen penataan ruang. Dia juga menyampaikan agar saya sering-sering buka internet alias gaul gituh supaya tidak ketinggalan jaman. Saya tertawa saja karena sebenarnya buka-buka internet bukan hal yang asing bagi saya. Buat saya yang aneh justru mungkin anggapan orang pusat bahwa orang daerah itu bodoh dan kurang gaul, padahal memang iya tapi gak juga. Daerah luar Jawa seperti Sumatera dan Kalimantan mungkin dalam jangka waktu tidak lama lagi akan mengalahkan orang Jawa karena mereka mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk peningkatan kualitas SDM terutama aparaturnya.
Terlepas dari itu bagi saya hubungan pusat dan daerah harusnya timbal balik. Bukan hanya daerah yang sering konsultasi ke pusat tapi pusat juga sering turun ke daerah karena semua kebijakan pusat dilaksanakan di daerah.
Rabu, 12 Desember 2007
Long long Term Planning Period
The Long and long and long term planning period adalah istilah keren dari rencana jangka panjang. Saking panjangnya sampai gak selesai-selesai dibikin. Tapi itulah Indonesia. Apa yang kita pikirkan dan rencanakan sering gak nyambung dengan kenyataan.
Kemarin tanggal 12 Desember 2007 Kota Cirebon melaksanakan musyawarah rencana jangka panjang 2005 - 2025. Pertemuan itu merupakan rangkaian dari proses diskusi untuk merumuskan apa sih yang menjadi mimpi Kota Cirebon 20 tahun mendatang. Kesan saya yang pertama adalah bahwa ternyata kita tidak biasa membuat sebuah perencanaan jangka panjang. Ini terlihat dari pikiran-pikiran dan gagasan yang dilontarkan masih nuansa jangka pendek, selain itu antusiasme peserta yang ternyata lebih giat orang dari luar pemerintahan daripada satuan kerja-satuan kerja yang ada di Kota Cirebon. Kedua ternyata bahwa mimpi itu kalau disengaja disetel susah juga. Kenapa ? karena yang bermimpi adalah banyak orang, banyak kepala, banyak kepentingan, sehingga susah merumuskan yang kongkrit seperti apa. Kalau masyarakat adil makmur gemah ripah loh jinawi sih itu dambaan semua orang. Tapi kira-kira untuk mencapai itu strategi apa yang harus kita lakukan. Ini yang sulit.
Kita menyusun dokumen rencana jangka panjang dibantu oleh konsultan. Dan saya sangat tidak mengira bahwa ternyata konsultan yang kita kontrak bekerja kurang bagus. Tadinya saya berharap dengan latar belakang tenaga ahli yang S2 - S3, mereka bisalah menyusun sebuah dokumen perencanaan yang kira-kira lebih bagus daripada kita susun sendiri. Tapi itu meleset. Dari segi penulisan, dan analisis masih sangat lemah dan yang berkata tentang itu bukan saya tapi beberapa "pakar" dari perguruan tinggi lokal yang notabene mereka adalah akademisi.
Menurut saya "teung-teuingeun" ari tenaga ahli siga kitu mah nyusun dokumen nu hasilna siga kitu. Dan perlu dicatat konsultan terpilih melalui seleksi lelang murni, gak ada kongkalikong, dan gak ada potongan-potongan utk setoran dari jasa konsultan.
Ada catatan kecil yang menjadi point penting sepertinya dari hasil musrenbang RPJP itu. Pertama bahwa Kota Cirebon sesuai dengan potensinya sebagai kota perdagangan dan jasa, disepakati untuk tetap berada pada jalur perdagangan dan jasa di masa datang. Kedua perdagangan dan jasa yang maju harus diimbangi pula oleh pembangunan sumber daya manusia baik moriil dan materiil. Oleh karena itu beberapa peserta menyarankan untuk memberikan tambahan kata iman, taqwa, sejahtera, dsb yang berorientasi pada pembangunan masyarakat.Ketiga bahwa pembangunan jangka panjang tidak akan berguna tanpa ada operasionalisasi dari rumusan kebijakan jangka panjang. Dan ini berarti harus dibuat tahapan pembangunan lima tahunan yang kemudian akan diacu oleh para walikota sebagai pedoman kepemerintahannya. Ketiga terlepas dari kualitas yang kurang memuaskan dari hasil konsultan bagaimanapun draft rencana ini harus diselesaikan minimal tahun 2008.
Kemarin tanggal 12 Desember 2007 Kota Cirebon melaksanakan musyawarah rencana jangka panjang 2005 - 2025. Pertemuan itu merupakan rangkaian dari proses diskusi untuk merumuskan apa sih yang menjadi mimpi Kota Cirebon 20 tahun mendatang. Kesan saya yang pertama adalah bahwa ternyata kita tidak biasa membuat sebuah perencanaan jangka panjang. Ini terlihat dari pikiran-pikiran dan gagasan yang dilontarkan masih nuansa jangka pendek, selain itu antusiasme peserta yang ternyata lebih giat orang dari luar pemerintahan daripada satuan kerja-satuan kerja yang ada di Kota Cirebon. Kedua ternyata bahwa mimpi itu kalau disengaja disetel susah juga. Kenapa ? karena yang bermimpi adalah banyak orang, banyak kepala, banyak kepentingan, sehingga susah merumuskan yang kongkrit seperti apa. Kalau masyarakat adil makmur gemah ripah loh jinawi sih itu dambaan semua orang. Tapi kira-kira untuk mencapai itu strategi apa yang harus kita lakukan. Ini yang sulit.
Kita menyusun dokumen rencana jangka panjang dibantu oleh konsultan. Dan saya sangat tidak mengira bahwa ternyata konsultan yang kita kontrak bekerja kurang bagus. Tadinya saya berharap dengan latar belakang tenaga ahli yang S2 - S3, mereka bisalah menyusun sebuah dokumen perencanaan yang kira-kira lebih bagus daripada kita susun sendiri. Tapi itu meleset. Dari segi penulisan, dan analisis masih sangat lemah dan yang berkata tentang itu bukan saya tapi beberapa "pakar" dari perguruan tinggi lokal yang notabene mereka adalah akademisi.
Menurut saya "teung-teuingeun" ari tenaga ahli siga kitu mah nyusun dokumen nu hasilna siga kitu. Dan perlu dicatat konsultan terpilih melalui seleksi lelang murni, gak ada kongkalikong, dan gak ada potongan-potongan utk setoran dari jasa konsultan.
Ada catatan kecil yang menjadi point penting sepertinya dari hasil musrenbang RPJP itu. Pertama bahwa Kota Cirebon sesuai dengan potensinya sebagai kota perdagangan dan jasa, disepakati untuk tetap berada pada jalur perdagangan dan jasa di masa datang. Kedua perdagangan dan jasa yang maju harus diimbangi pula oleh pembangunan sumber daya manusia baik moriil dan materiil. Oleh karena itu beberapa peserta menyarankan untuk memberikan tambahan kata iman, taqwa, sejahtera, dsb yang berorientasi pada pembangunan masyarakat.Ketiga bahwa pembangunan jangka panjang tidak akan berguna tanpa ada operasionalisasi dari rumusan kebijakan jangka panjang. Dan ini berarti harus dibuat tahapan pembangunan lima tahunan yang kemudian akan diacu oleh para walikota sebagai pedoman kepemerintahannya. Ketiga terlepas dari kualitas yang kurang memuaskan dari hasil konsultan bagaimanapun draft rencana ini harus diselesaikan minimal tahun 2008.
Langganan:
Postingan (Atom)