Kamis, 31 Januari 2008

Nasib Akhir PPK-IPM Kota Cirebon, Tragis.

Program Pendanaan Kompetisi Indeks Pembangunan Manusia (PPK-IPM) Kota Cirebon telah berakhir. Hal ini sesuai dengan perjanjian Walikota - Gubernur yang menyatakan bahwa program PPK-IPM bagi Kota Cirebon hanya dua tahun yaitu tahun 2006 dan tahun 2007. Praktis sejak tanggal 31 Desember 2007 PPK-IPM Kota Cirebon telah berakhir masa kegiatannya.

Menjelang akhir tahun 2007, tepatnya pada saat evaluasi caturwulan II, telah diingatkan oleh Tim Monev bahwa PPK-IPM Kota Cirebon akan berakhir dan perlu disusun exit strategy sekaligus implementasinya dalam APBD Kota Cirebon TA. 2008. Namun ternyata exit strategy mah dibikin, APBD mah bicara lain. Sepertinya semua orang trauma dengan yang namanya PPK-IPM. Entahlah menurut saya program ini bagus, yang membuat jelek itu adalah oknum. Organisasi Satlak sepertinya sudah bubar dan ini diperparah ternyata oleh konflik internal sekretaris satlak dengan yang lainnya. Sementara tim monev pun sudah vakum kegiatannya. Persoalan-persoalan yang belum diselesaikan tahun 2007 akhirnya menjadi tidak jelas siapa yang menangani. Sementara ada sekitar 600 orang yang menggantungkan nasibnya kepada keberlanjutan PPK-IPM, yaitu mereka yang masih mengikuti program Paket B. Sampai sekarang keberlanjutan PPK-IPM ini tidak jelas, mau dikemanakan. Tim pengganti Satlak atau monev belum dibentuk. Sementara Satlak sudah bubar.Tidak ada yang memperhatikan.......

Catatan Kecil Hasil Pilkada Kota Cirebon

Pemilihan Langsung Walikota Cirebon, telah usai dilaksanakan pada 6 Januari lalu. Hasil pesta demokrasi tersebut menghasilkan calon incumbent pasangan Subardi-Sunaryo (Walikota Cirebon) memenangkan Pilkada dengan jumlah suara 36,06 %, disusul pasangan Ano-Yasin (Sekda) 26,37 %, pasangan Agus Alwafier-Eman (Wakil Walikota) 15,86 %, pasangan Soenoto-Suhendiwijaya 15,25 % , dan pasangan Bazis 6,45 %. Dengan demikian KPU telah menetapkan Subardi (Walikota Cirebon) dan Sunaryo HW (Ketua DPRD) sebagai pemenang pemilihan langsung Walikota Cirebon periode 2008 - 2013.

Ada beberapa hal yang menarik ternyata dari perjalanan Pilkada tersebut. Masa kampanye dan persiapannya dilaksanakan pasangan calon praktis sepanjang tahun 2007. Dari sekian kandidat ternyata terpilih lima pasangan calon. Ini merupakan calon terbanyak di Jawa Barat. Banyaknya calon ini ternyata memecahbelah suara sehingga suara hasil pilkada terlihat kecil-kecil. Tidak ada suara pemilih yang sangat dominan kepada salahsatu calon. Ini menunjukkan sebenarnya bahwa Kota Cirebon sangat heterogen dan tidak ada figur pimpinan kuat yang dapat menyatukan heterogenitas tersebut.

Hal lainnya adalah pada saat penyampaian visi dan misi calon walikota. Ternyata hasil Pilkada menunjukkan belum tentu pasangan yang memiliki visi dan misi bagus bisa memenangkan pilkada. Dari kelima calon, pasangan Ano-Yasin mengumumkan di surat kabar satu halaman penuh visi dan misinya, sementara pasangan Toya menyampaikannya lewat spanduk besar di beberapa sudut jalan strategis dan dikenal dengan nama "Pantura" (delapan tuntutan rakyat). sementara yang lainnya gak jelas. Ternyata penentuan kemenangan lebih terletak pada unsur lapangan, disinilah peran mesin partai politik atau mesin pengusung pasangan bisa lebih berperan. Saya gak tahu tapi memang banyak isu bahwa aparat PNS terlibat mendukung calon Su-Sun.

Hasil prosentase pemilih pun menunjukkan bahwa pasangan pemenang Su-Sun ternyata hanya didukung oleh suara sebanyak 36 %. Ini berarti bahwa sebanyak 64 % pemilih memilih orang lain alias tidak menginginkan pasangan tersebut memimpin kembali Kota Cirebon. Namun aturan main pemilu ternyata seperti itu. Saya gak tahu, tapi hal ini harus menjadi perhatian serius pasangan pemenang karena mayoritas rakyat sebenarnya tidak menginginkan mereka memimpin Kota Cirebon.

Hasil pilkada ternyata menimbulkan luka. Ada yang bangkrut, ada yang turun jabatan. Ada yang sombong dan mabuk kemenangan. Ada yang pongah dan mengancam-ancam pejabat / aparat supaya memenuhi keinginannya karena dia tim sukses pasangan pemenang, dan lain sebagainya. Saya berpikir ternyata rakyat Kota Cirebon sama sekali belum siap berdemokrasi, apalagi memilih pemimpin yang benar. Sepuluh tahun reformasi belum menunjukkan bekas apa-apa dalam kehidupan bermasyarakat. Entah mungkin berapa tahun diperlukan. Amerika katanya 100 tahun. Indonesia ........???