Pemilihan Langsung Walikota Cirebon, telah usai dilaksanakan pada 6 Januari lalu. Hasil pesta demokrasi tersebut menghasilkan calon incumbent pasangan Subardi-Sunaryo (Walikota Cirebon) memenangkan Pilkada dengan jumlah suara 36,06 %, disusul pasangan Ano-Yasin (Sekda) 26,37 %, pasangan Agus Alwafier-Eman (Wakil Walikota) 15,86 %, pasangan Soenoto-Suhendiwijaya 15,25 % , dan pasangan Bazis 6,45 %. Dengan demikian KPU telah menetapkan Subardi (Walikota Cirebon) dan Sunaryo HW (Ketua DPRD) sebagai pemenang pemilihan langsung Walikota Cirebon periode 2008 - 2013.
Ada beberapa hal yang menarik ternyata dari perjalanan Pilkada tersebut. Masa kampanye dan persiapannya dilaksanakan pasangan calon praktis sepanjang tahun 2007. Dari sekian kandidat ternyata terpilih lima pasangan calon. Ini merupakan calon terbanyak di Jawa Barat. Banyaknya calon ini ternyata memecahbelah suara sehingga suara hasil pilkada terlihat kecil-kecil. Tidak ada suara pemilih yang sangat dominan kepada salahsatu calon. Ini menunjukkan sebenarnya bahwa Kota Cirebon sangat heterogen dan tidak ada figur pimpinan kuat yang dapat menyatukan heterogenitas tersebut.
Hal lainnya adalah pada saat penyampaian visi dan misi calon walikota. Ternyata hasil Pilkada menunjukkan belum tentu pasangan yang memiliki visi dan misi bagus bisa memenangkan pilkada. Dari kelima calon, pasangan Ano-Yasin mengumumkan di surat kabar satu halaman penuh visi dan misinya, sementara pasangan Toya menyampaikannya lewat spanduk besar di beberapa sudut jalan strategis dan dikenal dengan nama "Pantura" (delapan tuntutan rakyat). sementara yang lainnya gak jelas. Ternyata penentuan kemenangan lebih terletak pada unsur lapangan, disinilah peran mesin partai politik atau mesin pengusung pasangan bisa lebih berperan. Saya gak tahu tapi memang banyak isu bahwa aparat PNS terlibat mendukung calon Su-Sun.
Hasil prosentase pemilih pun menunjukkan bahwa pasangan pemenang Su-Sun ternyata hanya didukung oleh suara sebanyak 36 %. Ini berarti bahwa sebanyak 64 % pemilih memilih orang lain alias tidak menginginkan pasangan tersebut memimpin kembali Kota Cirebon. Namun aturan main pemilu ternyata seperti itu. Saya gak tahu, tapi hal ini harus menjadi perhatian serius pasangan pemenang karena mayoritas rakyat sebenarnya tidak menginginkan mereka memimpin Kota Cirebon.
Hasil pilkada ternyata menimbulkan luka. Ada yang bangkrut, ada yang turun jabatan. Ada yang sombong dan mabuk kemenangan. Ada yang pongah dan mengancam-ancam pejabat / aparat supaya memenuhi keinginannya karena dia tim sukses pasangan pemenang, dan lain sebagainya. Saya berpikir ternyata rakyat Kota Cirebon sama sekali belum siap berdemokrasi, apalagi memilih pemimpin yang benar. Sepuluh tahun reformasi belum menunjukkan bekas apa-apa dalam kehidupan bermasyarakat. Entah mungkin berapa tahun diperlukan. Amerika katanya 100 tahun. Indonesia ........???
Ada beberapa hal yang menarik ternyata dari perjalanan Pilkada tersebut. Masa kampanye dan persiapannya dilaksanakan pasangan calon praktis sepanjang tahun 2007. Dari sekian kandidat ternyata terpilih lima pasangan calon. Ini merupakan calon terbanyak di Jawa Barat. Banyaknya calon ini ternyata memecahbelah suara sehingga suara hasil pilkada terlihat kecil-kecil. Tidak ada suara pemilih yang sangat dominan kepada salahsatu calon. Ini menunjukkan sebenarnya bahwa Kota Cirebon sangat heterogen dan tidak ada figur pimpinan kuat yang dapat menyatukan heterogenitas tersebut.
Hal lainnya adalah pada saat penyampaian visi dan misi calon walikota. Ternyata hasil Pilkada menunjukkan belum tentu pasangan yang memiliki visi dan misi bagus bisa memenangkan pilkada. Dari kelima calon, pasangan Ano-Yasin mengumumkan di surat kabar satu halaman penuh visi dan misinya, sementara pasangan Toya menyampaikannya lewat spanduk besar di beberapa sudut jalan strategis dan dikenal dengan nama "Pantura" (delapan tuntutan rakyat). sementara yang lainnya gak jelas. Ternyata penentuan kemenangan lebih terletak pada unsur lapangan, disinilah peran mesin partai politik atau mesin pengusung pasangan bisa lebih berperan. Saya gak tahu tapi memang banyak isu bahwa aparat PNS terlibat mendukung calon Su-Sun.
Hasil prosentase pemilih pun menunjukkan bahwa pasangan pemenang Su-Sun ternyata hanya didukung oleh suara sebanyak 36 %. Ini berarti bahwa sebanyak 64 % pemilih memilih orang lain alias tidak menginginkan pasangan tersebut memimpin kembali Kota Cirebon. Namun aturan main pemilu ternyata seperti itu. Saya gak tahu, tapi hal ini harus menjadi perhatian serius pasangan pemenang karena mayoritas rakyat sebenarnya tidak menginginkan mereka memimpin Kota Cirebon.
Hasil pilkada ternyata menimbulkan luka. Ada yang bangkrut, ada yang turun jabatan. Ada yang sombong dan mabuk kemenangan. Ada yang pongah dan mengancam-ancam pejabat / aparat supaya memenuhi keinginannya karena dia tim sukses pasangan pemenang, dan lain sebagainya. Saya berpikir ternyata rakyat Kota Cirebon sama sekali belum siap berdemokrasi, apalagi memilih pemimpin yang benar. Sepuluh tahun reformasi belum menunjukkan bekas apa-apa dalam kehidupan bermasyarakat. Entah mungkin berapa tahun diperlukan. Amerika katanya 100 tahun. Indonesia ........???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar