Kamis, 30 Agustus 2007

"Exit Strategy" PPK-IPM

Hari ini kamis 30 Agustus 2007 saya masih tepekur di depan laptop saya. Beberapa waktu lalu kami menerima tim reviewer PPK-IPM Jawa Barat. Sebagai info PPK IPM adalah Program Pendanaan Kompetisi Indeks Pembangunan Manusia yang digagas Propinsi Jawa Barat pada tahun 2005. Basis program adalah kompetisi kabupaten / kota se Jawa Barat dalam rangka peningkatan IPM. Kota Cirebon adalah salahsatu pemenangnya dan tahun 2007 ini masuk tahun ke dua - tahun terakhir pelaksanaan PPK-IPM. "Reward" yang diberikan kepada pemenang kompetisi cukup lumayan yaitu 25 milyar rupiah per tahun selama dua tahun. Komponen IPM yang ditingkatkan adalah komponen pendidikan, kesehatan, dan daya beli. Khusus untuk Kota Cirebon fokus utama adalah pada daya beli.

Kembali ke maksud kedatangan tim reviewer, mereka sempat mempertanyakan strategi apa yang akan ditempuh oleh kabupaten / kota jika pendanaan kompetisi ini berakhir, apa yang akan dilakukan utk memantau dana-dana bergulir yang ada dimasyarakat ? mau dibagikan saja ? bagaimana dengan aset barang yang diberikan kepada masyarakat juga ? bagaimana kalo oleh mereka dijual ? dsb. Kami semua belum bisa menjawab, namun pemikiran tentang hal tersebut sebenarnya pernah terlintas di benak saya sebelum tim reviewer datang. Kota Cirebon harus memikirkan "exit strategy" PPK-IPM.

Sejenak saya merenung apa ya yang harus dilakukan. Ada empat hal yang harus dilakukan dalam rangka exit strategi yaitu monitoring, pendampingan, fasilitasi dan pelaporan / publikasi. Ketua harian pernah mencetuskan ide exit strategi dengan mengembalikannya kepada tupoksi masing-masing dinas. Tetapi menurut saya meskipun itu dikembalikan kepada tupoksi masing-masing dinas kita tetap harus punya strategi yang jelas. Empat hal tadi di ataslah yang sementara ada dalam benak saya. Tinggal sekarang harus ada data berapa modal bergulir yang ada di masyarakat serta aset barang yang ada. Pendampingan tetap harus dilakukan tetapi kayaknya harus dilakukan oleh fasilitator (LSM misalnya). Fasilitasi juga diperlukan jika dalam perjalanan waktu ada permasalahan dan kendala yang terjadi. Selanjutnya pelaporan / publikasi ditujukan guna menyebarluaskan informasi kepada masyarakat hasil dari PPK-IPM baik ataupun buruk. Strategi di atas harus direncanakan sejak sekarang karena mumpung masih dalam proses awal penyusunan APBD TA. 2008.

Rabu, 29 Agustus 2007

Rapat Pembahasan KUA Perubahan dan 2008

Blog ini dibuat untuk mengimbangi tingkat "kesetressan" saya terhadap pekerjaan yang dihadapi. Lumayanlah buat informasi mereka-mereka yang ingin tahu sebenarnya PNS tuh kerja apa sih...... Sebagai tulisan pertama saya sampaikan salahsatu proses penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) di Kota Cirebon.

Hari Rabu, 29 Agustus 2007 dilaksanakan rapat pembahasan Kebijakan Umum Anggaran perubahan utk TA. 2007 dan KUA 2008 bertempat di Prima Resort Sangkan Hurip Kuningan. Tempatnya memang enak dan nyaman, pas sebenarnya untuk membahas rapat. Cuman karena undangan datang mendadak dan rapat dilaksanakan bersama dengan Panitia Anggaran DPRD, saya rada males. Bahan sudah disiapkan, dan saya datang dengan teman-teman lainnya jam 13.30 siang. Eh ternyata gak ada orang. Akhirnya kita duduk-duduk lah di bawah pohon kelapa sambil lesehan, sayang gak ada yang bawa kartu gapleh. Kalo ada kan bisa gaplehan dulu sebentar.

Rapat akhirnya dimulai jam setengah tiga sore, tambah haroreamlah saya. Setelah dibuka oleh pimpinan dewan, pembahasan dilanjutkan dengan agenda klarifikasi dari tim anggaran eksekutif tentang beberapa pertanyaan yang diajukan oleh dewan. Beberapa pertanyaan diantaranya adalah mengenai tambahan untuk insentif honor guru swasta 6 milyar, darimana duitnya ?, dan beberapa usulan penghapusan atau pengurangan anggaran oleh panitia anggaran. Panitia anggaran juga mengusulkan "aspirasi" sebesar 3 milyar sekian. Untuk gambaran dana yang tersedia dan dapat digunakan adalah sebanyak 12 milyar saja.

Rapat tersebut buat saya sangat gak efektif, gak fokus, dan terlalu menekankan "power" -nya panitia anggaran. Beberapa panitia anggaran ngotot agar pembahasan dimulai dari klarifikasi bantuan partai politik, baru pembahasan perubahan anggaran TA. 2007 bisa dilanjutkan. Dari hal ini saja sudah terlihat kemana sebenarnya keberpihakan panitia anggaran. Berkali-kali rapat diinterupsi karena eksekutif dianggap mempersulit pencairan bantuan partai politik. Akhirnya disepakati pembicaraan tentang bantuan partai politik dibahas tersendiri dengan mengundang ketua tim pencairan bantuan utk partai politik. Dari informasi yang diperoleh ternyata meskipun sudah disampaikan tentang aturan main bantuan parpol, tetap saja anggota dewan menganggap belum jelas. Saya sampai sempet mikir sebenarnya anggota dewan ini punya otak gak sih...........

Akhirnya jam 5 sore saya pulang duluan dan memutuskan untuk gak hadir pada rapat lanjutan malam harinya. Kekecewaan saya karena baik panitia anggaran dan tim anggaran tidak pernah fokus pada tujuan yang sebenarnya telah digariskan dalam setiap pembahasan APBD. Ujung-ujungnya adalah pembagian proporsi APBD berapa untuk saya dan berapa untuk anda. Saya dapat informasi bahwa beberapa kegiatan penting malah dihapus seperti bantuan utk rumah tidak layak huni (utk keluarga miskin), hasil musrenbang kecamatan dipotong 1,1 milyar, yang akhirnya semua pemotongan itu adalah untuk mengakomodir keinginan dewan yang katanya "aspirasi". Adapun pemotongan hasil musrenbang kecamatan adalah karena mereka pengawal kecamatan bukanlah pihak yang memiliki "hak budget". Kalo memang begitu kenapa gak semuanya aja dikasihkan ke panitia anggaran, biar yang ngatur mereka semua.

Esoknya saya dapat informasi bahwa akhirnya sisa anggaran dikapling-kapling, dan eksekutif dijatah sebanyak 1,2 milyar terserah buat apa. Saya berpikir selama ini sudah kerja capek bikin arahan rencana tahunan yang jelas kok ujung-ujungnya amburadul. Itulah kondisi kita ternyata. Sekalipun pemerintahan sudah melakukan hal yang benar tetap saja dianggap salah karena ternyata selama ini kita memilih orang bodo dengan kekuasaan yang sangat besar. Sangat benarlah pepatah yang mengatakan ketika para pemimpin atau mereka yang berkuasa ternyata bukan ahlinya dan gak punya otak maka kehancuran akan semakin dekat. Saya hanya bisa berdoa semoga Tuhan menunjukkan dan membimbing kita di jalan yang benar. Amin.